Menjadi Petani

Posted on April 14th, 2011 by Sapto, Hysocc.
Categories: Opini, Pengalaman Berharga.

Tanggal 20 Maret lalu, gw melakukan studi lapang ke lahan pertanian di desa Situ Gede. Niatnya sih, ingin mengambil data untuk tugas mata kuliah. Namun di sana gw hanya menemukan aktivitas penyemprotan herbisida di lahan yang akan diganti komoditasnya. Sebenarnya, yang dicari adalah proses pengolahan tanah, tetapi karena di perkuliahan juga diajari penanaman secara no tillage, maka gw ikuti juga petani yang melakukan penyemprotan itu. Karena tujuan petani itu melakukan penyemprotan adalah untuk menghabisi sisa tanaman yang ia miliki untuk menggantinya dengan tanaman jagung. Itu kan no tillage land preparation kan?

Tapi ternyata, hal itu tidak diperbolehkan oleh dosen. Gw baru mengetahuinya 10 hari setelah mengambil data. Heu, kalo gitu kenapa kita diajari no tillage farming??

Tapi bukan itu yang ingin gw sampaikan. Ada sesuatu yang sangat gw inginkan, yang sudah lama tidak gw lihat dan gw rasakan. Yaitu kedamaian menjadi petani.

Petani yang gw temui di desa itu sebenarnya adalah Pak Parma, teknisi bengkel yang ada di departemen TMB. Kebetulan bertemu ketika gw sedang putus asa mencari petani yang sedang mempersiapkan lahan, yang sangat sulit untuk dicari.

Pagi itu jam 7 pagi, Pak Parma bersama istrinya akan menuju ke lahan mereka. Pa Parma menggendong knapsack sprayer dan plastik berisi herbisida, sedangkan istrinya membawa bekal makanan untuk dimakan di lahan. Lokasi lahannya cukup jauh, namun mereka seolah sudah terbiasa akan hal itu.

Sampai di sana, Pak Parma segera meletakkan peralatan yang dibawanya dan melepas sepatunya. Sebelum melakukan penyemprotan, ia dan istrinya melakukan pemanenan terakhir. Masih ada sekitar 7 kg kacang panjang yang bisa dipanen, dan itu cukup banyak. Di lahan seluas kurang lebih 800 m2 itu, tanaman kacang panjang memang sudah banyak yang mengering. Di minggu biasa, bisa belasan kg.

Ya, Pak Parma dan Istrinya memang hanya mengelola lahannya di akhir pekan. Pekerjaan utama Pak Parma adalah sebagai teknisi di bengkel Departemen TMB. Walau istrinya ibu rumah tangga, ia tidak mau pergi ke sawah tanpa ditemani suaminya. Anak2 mereka sudah bekerja, sehingga memang tidak ada yang mengurus lahan mereka di hari kerja. Hanya dalam kondisi khusus saja, Pak Parma meminta petani lain untuk mengurus lahan mereka.

Itulah mengapa, ketika membantu melakukan pemanenan, lahan itu banyak ditumbuhi rumput liar. Serangga dan ulat juga sering ditemukan walau dikatakan belum mewabah. Setidaknya sekitar 1 kg kacang panjang rusak dan tidak bisa dipanen ketika itu karena serangan ulat dan serangga.

Setelah setengah lahan selesai dipanen, Pak Parma mempersiapkan herbisida dan alat penyemprotnya. Entah kenapa gw merasa, Pak Parma tidak menuangkan herbisidanya sesuai takaran, cenderung overdosis. Bahkan dicampur dengan pupuk urea juga, suatu kombinasi yang tidak biasa menurut gw. Namun gw cuma mahasiswa semester 6, tidak bisa dibandingkan dengan petani yang sudah belasan tahun mengelola lahannya.

Mungkin karena ketika itu gw berpikiran, herbisida hanya untuk gulma saja. Tetapi Pak Parma menggunakan herbisida untuk membasmi tanaman pertaniannya juga, karena lahan itu akan segera ia tanami jagung.

Gw sempat juga mencoba memakai knapsack, namun memang gw cuma mahasiswa pertanian, bukan petani sesungguhnya. Padahal cuma 14 liter larutan herbisida dan pupuk, tapi baru 30 m berjalan, rasa pegelnya sudah setara dengan memanggul beras 50 kg. Desain alatnya memang tidak ergonomis, namun Pak Parma yang usianya sudah mendekati 60 tahun, terlihat tidak bermasalah melakukannya untuk lahan seluas 800 m2 itu. Istrinya juga masih terlihat cantik dan setia menemani Pak Parma.

Sempat juga gw nikmati bersama mereka, gorengan tempe yang dibawa oleh istri Pak Parma. Rasanya nikmat sekali, di bawah cahaya matahari dan angin sejuk serta suasana hijau padi dan tanaman lainnya.

Itulah kehidupan yang gw impikan. Menjadi petani di akhir pekan.

Sangat tentram, damai, seolah tidak ada beban yang mereka rasakan. Petani biasa mungkin aka stress melihat lahannya begitu rusak, dimakan ulat dan serangga serta ditumbuhi rumput liar. Tetapi mereka tidak begitu, karena memang sudah biasa. Mereka hanya mengurus lahannya di akhir pekan, sehingga wajar jika kondisinya begitu rusak dan hasilnya tidak sebaik yang didapatkan petani lain. Namun penghasilan Pak Parma bukan dari lahan pertanian, Pak Parma mempersiapkan lahan ini untuk masa pensiunnya.

Sungguh gw mendapatkan kembali jiwa gw yang hilang, dengan berlumpur2an di antara semak kacang panjang yang sudah berwarna kecoklatan itu. Mahasiswa lain mungkin tidak akan bisa terbiasa dengan kondisi yang gw alami; berjalan di atas lumpur pekat dan dalam di mana ada kemungkinan ular dan lintah menyerang. Tapi itu kehidupan yang gw inginkan, menjadi petani di akhir pekan.

Ya, walau gw menyukai kehidupan sebagai petani, gw tetap tidak bisa menghilangkan kecintaan gw terhadap mesin pertanian dan alat berat.

0 comments.

To be SR

Posted on December 15th, 2010 by Sapto, Hysocc.
Categories: Pengalaman Berharga.

Ingin sedikit bercerita mengenai pengalaman yang terjadi baru-baru ini.

Sudah lebih dari sebulan aku menjadi Senior Resident Asrama TPB IPB. Sudah selama itulah rasa bangga dan bingung bercampur aduk. Rasanya sulit dipercaya bisa mendapatkan posisi ini, posisi yang pernah menjadi impianku ketika masih di asrama.

Namun juga bingung karena beratnya tanggung jawab yang akan kubawa selama 2 tahun ini; khawatir, apakah aku bisa membawa tanggung jawab ini hingga akhir.

Hal lain yang membuatku bingung adalah besar sekali perbedaan hidup yan kujalani antara sebelum dan sesudah menjadi SR. Dulu mungkin tidak menjadi masalah jika aku berjalan berdampingan dengan perempuan, namun kali ini menjadi masalah. Mungkin dulu tidak menjadi masalah jika telat mencuci baju, namun kini menjadi masalah. Mungkin dulu tidak menjadi masalah ketika sering pulang malam, namun kini menjadi masalah. Memang, banyak hal telah hilang, namun banyak juga hal-hal yang baik dan menyenangkan yang datang setelah aku menjadi SR. Dan hal-hal tersebut adalah hal-hal yang belum pernah kudapatkan sebelumnya, yang membuatku amat bersyukur dengan posisi ini.

Sejak SMA, hasrat terbesarku memang menjadi seorang pengajar. Dulu aku mengajarkan teman-temanku menjelang ujian, dan biasanya mengajarkan fisika meski tidak jarang juga aku mengajarkan mereka kimia. Setelah lulus, aku mendapatkan tawaran mengajar di bimbel untuk anak SMP, dan pelajaran yang kuajarkan adalah Fisika. Sangat mudah, aku mendapatkan manfaat secara batin dan ilmu, namun secara finansial tidak. Karena lokasi tempat mengajar cukup jauh, honor mengajar hanya cukup untuk perjalanan pulang pergi. Ketika sampai di kampus, mungkin hanya tersisa sedikit.

Tahun berikutnya, aku mendapatkan tawaran mengajar di kampus, mengajarkan fisika juga untuk mahasiswa tingkat 1. Cukup lancar, tapi honornya tidak lancar.

Dan sekarang di asrama, aku masih ingin mengajar. Tapi ada banyak hal yang ingin kuajarkan, tidak hanya ilmu-ilmu yang ilmiah, namun juga ilmu lain yang berkaitan dengan kehidupan. Hal ini terkait dengan pengalaman hidupku yang menyaksikan mahasiswa tingkat satu setelah lulus dari asrama, perilaku mereka tidak mencerminkan insan asrama lagi; sudah sering pulang malam, dan sebagainya.

Masih teringat momen beberapa saat sebelum mengajukan diri menjadi SR, aku merupakan kandidat terkuat untuk menjadi ketua DPM Fateta dan ketua Badan Pengawas Himateta. Dua posisi itu merupakan permintaan dari teman-teman, namun seolah-olah aku mengandaskan impian mereka dengan mendaftarkan diri menjadi SR. Itu adalah salah satu hal yang cukup berat untuk diingat, namun selalu kutekankan pada mereka bahwa di manapun kita berada, kita tetap bisa berkontribusi dengan baik di sekitar kita, apapun peran dan tanggung jawab yang dibebankan kepada kita.

Masih teringat ketika dulu ramai sekali mahasiswa Fateta 46 yang memanggil “ka Sapto”, “assalamualaikum, ka Sapto”, dsb ketika bertemu di jalan. Kini, IPB 47 juga demikian, tidak hanya Fateta. Entah perasaan apa ini, seolah aku menjalani dua peran yang amat penting, yaitu sebagai mahasiswa senior dan sebagai seorang kakak di asrama. Keduanya sama: aku harus memberikan contoh yang baik, secara akademik, moral, dan etika. Tanggung jawab yan amat berat, tapi juga amat kusukai.

Semoga bisa menjadi pelajaran bagi yang lain, bahwasannya ketika kita memilih sesuatu, pasti akan ada konsekuensi yang harus diterima. Dan manfaat yang didapat harus diyakini sebanding dengan pengorbanan dan perjuangannya.

0 comments.

Budaya Perpeloncoan

Posted on August 12th, 2010 by Sapto, Hysocc.
Categories: Opini.

Dari sudut pandang saya sebagai mahasiswa senior.

Disadari atau tidak, perpeloncoan di masa perkenalan kampus ataupun fakultas sudah membudaya di pikiran mahasiswa. Mereka tidak mengakuinya, namun rantai ini tidak pernah putus. Hanya cara pelaksanaannya yang berbeda. Dengan mengatas namakan tindakan mendidik, perbuatan itu dilakukan.

Bahwasanya menarik untuk diperhatikan kalau masa perkenalan kampus dan fakultas adalah agenda milik institusi (rektorat dan dekanat), sehingga segala hal yang terjadi di dalamnya menjadi tanggung jawab institusi. Namun dalam pelaksanaannya, mahasiswa diamanahkan untuk itu. Hal inilah yang menyebabkan seolah-olah panitia menganggap bahwa ini adalah agenda mahasiswa sehingga panitia berhak mengadakan agenda-agenda yang tidak penting yang jauh dari tujuan masa perkenalan kampus / fakultas itu sendiri, yang mengatasnamakan mendidik, meningkatkan kebersamaan, dsb.

Di Fakultas Teknologi Pertanian sendiri, yang sudah dinobatkan sebagai fakultas dengan tingkat perpeloncoan yang minimum, masih menjadi masalah bagi dekanatnya sendiri. Techno F 2010 dikatakan tidak berbeda dengan Techno F tahun 2009 di mana pada hari pelaksanaannya peserta masih dipaksa menggunakan atribut yang tidak penting yang jauh dari perkenalan fakultas. Sebut saja, papan kesalahan yang digantung di punggung tiap peserta. Berbagai macam penugasan seperti membuat prototype, business plan, dsb jauh sekali dari tujuan kegiatan itu, yaitu memperkenalkan fakultas. Tidak ketinggalan juga kegiatan outbond, pemilihan ketua angkatan, dsb, padahal tidak ada satupun agenda fakultas yang membutuhkan keberadaan maupun peran ketua angkatan.

Banyak sekali hal yang mengada-ada dilakukan di tiap masa perkenalan fakultas. Sebut saja, SOP, atribut di tiap hari pelaksanaan, dsb hingga rambut dan jilbab pun diatur yang oleh panitia mengatasnamakan kerapihan. Adakah SK Rektor yang menyebutkan bahwa setiap kuliah harus mengenakan kemeja putih lengan panjang dan celana bahan berwarna hitam? SK Rektor hanya menyebutkan pakaian rapih dan sopan, bagi pria dan wanita tidak berjilbab mengenakan pakaian berkerah, laki-laki mengenakan celana panjang.

Tidak ketinggalan kritikan mengenai sistematika pelaksanaannya yang melibatkan adanya sebuah divisi yang dalam definisi tugasnya yaitu menertibkan peserta selama kegiatan berlangsung. Namun tidak jarang perlakuan mereka terhadap peserta berlebihan dan menyebabkan stress bagi peserta dikarenakan watak mereka yang keras dan suara mereka yang terdengar galak dengan desibel yang tinggi. Hal itu tidak bisa dibiarkan, tidak sepantasnya mahasiswa yang sedang diperkenalkan oleh fakultasnya dibentak-bentak seperti itu.

Dari semuanya, perlakuan panitia terhadap peserta, segala penugasan, SOP, bentakan, dan lain sebagainya seharusnya sudah cukup membuka mata kita. Pantaskah senior melakukan itu terhadap juniornya? Sebagai angkatan yang lebih tua seharusnya mereka lebih bijak. Bukan berarti mereka seorang senior, namun berhak menyuruh juniornya melakukan ini itu. Tidak pantas. Di kampus tujuan utama mereka adalah kuliah, dan masa perkenalan kampus / fakultas merupakan agenda milik institusi, sehingga yang berhak melakukan penugasan di kegiatan ini hanyalah dosen. Sungguh tidak ada akal dan hati nurani dari mereka yang berbuat seperti ini.

0 comments.

Generasi Pertanian yang Mengecewakan

Posted on June 28th, 2010 by Sapto, Hysocc.
Categories: Opini.

Ada yang salah dalam mewarnai penyambutan angkatan 47 yang terjadi hari senin, 28 Juni 2010. Bukan dalam proses registrasinya di GWW, bukan pada acara Open House 47 yang diselenggarakan mahasiswa, tapi perilaku angkatan 47 di sekitar dan dalam IPB.

Dari yang paling awal dulu yah, dari ketika gw berangkat di pagi hari, jam 7 pagi mencari sarapan. Tidak biasanya warung langganan ramai, ternyata banyak angkatan 47 sarapan di warung tersebut bersama orang tuanya.

Dan di sanalah momen mengecewakan yang pertama datang, yaitu ketika gw melihat seluruh mahasiswa baru itu beserta orang tuanya menyisakan makanan yang telah dipesannya. Bahkan sang ayah menyisakan 3/4 bagiannya. Itu benar-benar sangat mengecewakan jika ada calon generasi pertanian yang bersikap seperti itu, seolah mereka tidak sadar, dari setiap butir nasi yang mereka buang itu mengandung tiap butir keringat petani dan deru energi dari bahan bakar fosil. Saya, mahasiswa Teknik Pertanian, sangat tahu bagaimana bibit padi yang ditanam petani bisa sampai ke atas piring beserta energi yang melaluinya, namun keluarga tersebut sama sekali tidak menghargai besarnya energi dan keringat petani yang menghasilkan nasi tersebut. Sangat mengecewakan, sangat.

Tidak hanya itu, sepanjang satu hari itu, dari pagi sampai sore, gw ikuti acara registrasi dan open house. Momen mengecewakan itu datang lagi, ketika beberapa mahasiswa IPB 47 beserta keluarganya membuang sampah tepat di bawah mobil mereka setelah makan pagi dan siang; sampah sisa makanan beserta pembungkusnya dan plastik bekas air minum. Generasi pertanian tidak seharusnya berbuat seperti itu, bahwasanya jika kita menghargai bumi dan menyadari peran kita sebagai khalifah di bumi, maka hal itu seharusnya tidak terjadi.

Jadi teringat dengan perkataan salah satu dosen AGH, bahwa petani adalah orang di bumi ini yang paling dekat dengan Allah swt. Itu memang benar, petani yang sukses akan menghargai alam, tanah, air, dan udara karena mereka paling memahami bahwa kerusakan alam akan mempengaruhi hasil produksi pertanian mereka.

Rasanya sudah cukup sering mendengar ikrar “bangga pertanian”, namun sesungguhnya yang mereka lakukan tidak sesuai dengan kenyataan. Bahkan sangat mungkin sekali jika mereka tidak mengetahui definisi pertanian. Tidak ada yang salah dengan ikrar “bangga pertanian” karena hanya dengan itu manusia menjadi dekat dengan Allah swt. Hanya dengan itu manusia menghargai alam beserta isinya. Hanya dengan itu manusia menghargai kerja keras petani kecil yang berjuang keras memenuhi kebutuhan pangan bangsa Indonesia.

Degradasi generasi telah terjadi, semakin ke bawah, bangsa Indonesia semakin tidak bisa diharapkan. Bukan seperti ini seharusnya Indonesia. Sudah cukup gw menyaksikan perilaku angkatan 46, sudah cukup bagi gw merasakan kekecewaan pada angkatan 46, sekarang harus ditambah dengan angkatan 47. Di mana letak kesalahan bangsa ini?

2 comments.

Pengalaman Pertama Sholat di Masjid Muammar Qaddaffi

Posted on June 22nd, 2010 by Sapto, Hysocc.
Categories: Pengalaman Berharga.

Masjid ini dikunjungi oleh rombongan Industry Visit Fakultas Teknologi Pertanian setelah mengunjungi PT. Amerta Indah Otsuka, pabrik Pocari Sweat di Sukabumi. Masjid ini terletak di Bukit Az Zikra, Sentul. Bisa dikunjungi lewat Tol Bogor Outer Ring Road.

Yang menjadikan Masjid Muammar Qaddafi ini luar biasa adalah kemegahannya yang terletak di wilayah terpencil, jauh dari manapun selain sebuah komunitas yang didirikan untuk menegakkan syariah di wilayah tersebut. Begitu kami memasukki wilayah tersebut, berdiri banyak spanduk bertuliskan “Anda memasuki wilayah syar’i, dilarang merokok dan wajib menutup aurat sebagaimana ketetapan syariah islam.”

Masjid Muammar Qaddaffi telah mengalahkan kekaguman gw terhadap Al Hurriyyah dari sisi ukuran, keindahan, dan keajaiban struktural dan arsitekturalnya, yang tentu saja akan dilihat pertama kali oleh seorang engineer seperti gw. Secara ukuran, Masjid Muammar Qaddaffi memiliki luas dua kali luas komplek Al Hurriyyah, dan dari tinggi bangunan, Masjid Muammar Qaddaffi 1.5 kali lebih tinggi, seolah gw sedang melihat gunung ketika itu. Namun Al Hurriyyah masih lebih unggul sedikit mengenai keberadaan ruang terbuka hijau, meski dari jumlah dan jenis tanaman masih lebih unggul Muammar Qaddaffi.

Maaf, jadi membanding-bandingkan begini. Soalnya, hal ini melebihi kekaguman gw terhadap Masjid Istiqlal. Bahkan gw tidak merasakan kekaguman seperti ini ketika sholat di Istiqlal; gw lebih suka Al Hurriyyah dibandingkan Istiqlal.

Pernah tersesat di ruang wudlu? Gw mengalaminya, gw tersesat di ruang wudlu Muammar Qaddafi. Yang menyebabkan hal itu adalah begitu kompleksnya ruang wudlu tersebut, luasnya, dan banyaknya cermin menyebabkan gw tersesat di dalamnya.

Ruang sholat utamanya, ternyata tidak begitu jauh dari ruang wudlu. Tangga yang diberikan untuk menuju ke sana sangat istimewa, bahkan kami disuguhkan oleh pemandangan Bukit Az Zikra sesaat sebelum memasuki ruang sholat utama. Sebenarnya, memandang ke arah manapun selain ke arah kiblat, terlihat indahnya Bukit Az Zikra.

Alas sholatnya, sebuah karpet tebal, yang jika diletakkan di kosan manapun di IPB ini, akan dijadikan tempat tidur; sungguh nyaman di kaki dan kepala ketika bersujud.

Di sebelah kiri dan kanan tempat imam, di tembok yang menghadap jamaah, terdapat sebuah layar LED besar. Layar LED sebelah kanan setiap saat selalu menampilkan tausyiah, jadwal imam dan khatib sholat Jumat, dan jadwal dan tema pengajian berikutnya. Layar LED sebelah kiri terpasang jadwal sholat di hari tersebut bersama dengan jam aktualnya. Dalam hati gw berkata, “Beginilah seharusnya setiap masjid di dunia.” Amiiin. . .

Usai sholat, ada tausyiah dari imam yang membacakan al Hadist. Sungguh amat bermanfaat sholat di sana.

Kalau kebanyakan masjid memiliki arah kiblat membelakangi pintu utama, maka masjid Muammar Qaddaffi tidak demikian. Hal itu juga yang membuat gw tersesat ketika usai sholat, sepatu gw letakkan di sebelah kiri masjid, gw malah menuju ke sisi kanan masjid. Kebiasaan sholat di Al Huriyyah tidak bisa gw terapkan di masjid ini.

Selesai sholat, gw ga bisa melepaskan pandangan mata ini terhadap kekaguman yang ada di sana. Kalau gw mengatakan bahwa itu adalah istana, memang benar, gw merasa seperti di istana. Tidak terbayang bagaimana rasanya berdiri di halaman depan, memandangi Bukit Az Zikra yang begitu luas, seolah masjid ini berdiri di atas bukit. Ya, halaman depannya saja begitu tinggi, namun karena sangat luas dan bidang miring yang membawa kita dari parkiran d sisi masjid ke bagian tengah masjid benar-benar sangat landai sehingga hampir tidak terasa bahwa kita sebenarnya sedang bergerak naik.

Jika ada angkutan umum massal yang mampu menjangkau tempat itu, dan jadwal gw tidak terlalu sibuk, gw akan sholat jumat di sana. Sayangnya, karena tempat itu begitu eksklusif, benar-benar “terkunci” dari peradaban, tidak ada angkutan umum massal yang mampu menjangkau tempat tersebut. Hal ini penting untuk kekhusyukan beribadah.

Ustadz M. Arifin Ilham lah yang menggagas berdirinya tempat itu, terlihat dari nama wilayahnya, Bukit Az Zikra, yang mengingatkan kita akan pesantrennya yang terletak di Sawangan, Depok. Masjid itu beserta kawasan di sekitarnya berdiri atas bantuan Presiden Libya yang menjadi nama masjid tersebut, Muammar Qaddaffi. Rencananya, wilayah tersebut akan menjadi kompleks peribadatan khusus, entah apa namanya lupa. Yang jelas, masjid tersebut memang sangat luar biasa, menggugah kekaguman arsitektural dan struktural dari diri ini.

0 comments.

Pengalaman di pabrik Pocari Sweat, PT. Amerta Indah Otsuka, Sukabumi

Posted on June 22nd, 2010 by Sapto, Hysocc.
Categories: Pengalaman Berharga.

Berawal dari SMS teman yang menginfokan bahwa pendaftaran Industry Visit, program kerja BEM F, gw sangat ingin sekali berpartisipasi. Kegiatan ini sungguh sangat bermanfaat, gw jarang sekali melakukan kunjungan ke industri, dan gw sangat ingin sekali melihat sesuatu yang berbeda dari suatu industri karena tiap industri pasti memiliki keunikan tersendiri.

Berangkat dari IPB, tidak disangka ternyata pihak PT. Amerta Indah Otsuka menjemput kami dengan bis perusahaan. Di pabrik pun kita disambut dengan hangat, seolah tidak cukup bagi kami menyaksikan keindahan, kebersihan, dan kenyamanan pabrik dari halaman depan. Kami langsung diantar ke ruang presentasi di lantai tiga dengan elevator. Di ruangan tersebut, kami diperlihatkan pada berbagai hal, diantaranya sejarah perusahaan Otsuka Pharmaceutical co., visi misi, dan apa yang telah dicapai. Selain itu, disajikan pula sejarah Pocari Sweat di Indonesia, proses pembuatannya sejak tahun 90an sampai sekarang, hingga pabrik barunya yang terletak di Kejayan, Pasuruan, Jawa Timur. Yang paling menarik tentu saja, presenternya, mba Peti, lulusan IPB Diploma angkatan 39, yang senyumannya manis. Huehue, becanda.

Bingung ya kenapa perusahaan minuman ringan diasuh oleh perusahaan berbau pharmaceutical? Pada dasarnya, Otsuka adalah seorang dokter, dan perusahaan yang didirikannya berawal dari pembuatan cairan infus. Jika diselidiki, komponen cairan infus tidak berbeda dengan Pocari Sweat koq. Ketika gw dirawat di rumah sakit, gw pernah mencicipi cairan infus sedikit dari botol cairan infus yang hampir habis, dan rasanya kira-kira sama, agak-agak asin.

Yang paling menarik adalah proses pembuatan produknya, karena gw adalah engineer. Tapi gw agak menyimpang juga sih, karena semua pertanyaan yang gw ajukan adalah mengenai plastik. Walau TEP juga mempelajari pengemasan, namun sebagian besar dipelajari di TIN. Yang menjadi pertanyaan gw adalah mengenai proses pasteurisasi setelah filling, karena Poli Etilen Tereftalat, plastik bahan pembuat botol amat rentan terhadap panas dan seharusnya terjadi proses degradasi dari botol plastik ke produk. Pertanyaan gw yang berikutnya adalah perihal penggunaan PET sebagai bahan pembuat botol yang banyak dikeluhkan konsumen karena hanya bisa digunakan sekali dan tidak bisa di-reuse.

Yang menjawab pertanyaan kami, kalo ga salah namanya pak Agus, Alhamdulillah, adalah seorang yang amat nasionalis, walau ia bekerja di perusahaan Internasional. Ia blak-blakan mengatakan, sambil menjawab pertanyaan bahwa segala proses pembuatan, dari pencampuran air, gula, dan garam2an, pembuatan botol, pasteurisasi, hingga pengepakan, semuanya diatur oleh Otsuka Pharmaceutical co. beserta teknologi yang mereka miliki, dan para pegawai dan teknisi yang bekerja di bawahnya tidak berhak melakukan perubahan terkait proses produksi. Segala macam hal teknis sudah diaplikasikan setelah penelitian dilakukan sehingga untuk melakukan perubahan, diperlukan research and development lagi, dan itu tidak diizinkan oleh Otsuka International kecuali RnD dilakukan oleh Otsuka Pharmaceutical co. sendiri. Pak Agus juga memaparkan mengapa investasi Otsuka Pharmaceutical co., di mana penanaman modal asingnya adalah 100%, bisa lolos di Indonesia, padahal secara hukum hal itu tidak diperkenankan, juga diutarakan kepada kami, sehingga 100% profit Pocari Sweat yang dijual di Indonesia bisa lari ke Jepang. Ia juga mengatakan penyeasalannya kepada Indonesia karena air yang digunakan di perusahaan adalah air dari bumi Indonesia, namun keuntungannya 100% dinikmati di Indonesia. Untuk menyiasati hal itu, ia mengaku mengusulkan banyak program CSR perusahaan bagi masyarakat sekitar, dan salah satunya adalah program daur ulang limbah pabrik, terutama limbah botol palstik, yang melibatkan masyarakat yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Maka dari itu, di tiap sudut ruang kantor dan pabrik terdapat tempat sampah khusus botol plastik yang nantinya akan didaur ulang oleh masyarakat. Luar biasa.

Setelah penyampaian materi dan sesi tanya jawab, kita disuguhkan oleh view gunung Salak dan sempat berfoto bersama. Pemandangannya sih ga terlalu istimewa, gw lebih suka melihat bangunan pabriknya, yang juga terlihat dari ruangan itu.

Setelah itu, Pocari gratis…..

Lalu kami diajak untuk melihat-lihat proses produksi Pocari Sweat. Perjalanan menuju tempat tersebut kami lalui sambil melihat-lihat maket model pabrik dan lukisan-lukisan yang dibuat oleh anak-anak mengenai Pocari Sweat, anak-anak SD yang pernah mengunjungi pabrik ini sebelumnya.

Sayangnya, kami tidak bisa melihat proses produksi secara langsung melainkan dari platform yang didesain untuk memantau proses produksi dari jauh. Karena proses produksinya aseptik, kami tidak diijinkan untuk masuk ke lokasi produksinya. Namun hal itu sudah cukup menjawab rasa penasaran gw mengenai proses produksinya. Hanya satu mekanisme mesin yang belum gw pahami, yaitu alat yang digunakan untuk melabeli botol-botol secara otomatis. Selain itu, mekanisme sinkronisasi setiap mesin yang berjalan juga membuat gw pusing, begitu banyak kabel yang bersliweran di area produksi. Semua itu membuat gw merasa tertantang untuk mempelajari semuanya.

Ada satu ruangan produksi di mana teknisi yang bekerja di sana adalah teknisi yang diinstruksikan dan dikirim langsung dari Otsuka Pharmaceutical co, yaitu fasilitas pencampuran bahan, di mana pada fasilitas tersebut ada banyak tangki dan aliran yang terjadi di dalamnya berlangsung terus menerus 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dan bahan juga disuplai secara periodik. Dengan kondisi tersebut dan pengaturan aliran yang sedemikian rupa, komposisi cairan yang siap untuk difilling ke botol adalah sama untuk setiap botol. Sebenarnya konsepnya cukup mudah, gw mempelajarinya di semester 4 di mata kuliah Engineering Mathematica, kenapa bangsa Indonesia tidak mampu melakukan hal tersebut dan harus diasuh oleh teknisi dari Jepang? Tentu saja jawabannya sudah gw duga, “Komposisi campuran Pocari Sweat adalah ahasia Otsuka Pharmaceutical co.” jawabnya. Seperti yang ia katakan dari awal, di pabrik ini, orang Indonesia adalah “tukang jahit”nya, bukan desainernya. Jadi, ketika desainer berkata, buatkan pakaian seperti ini, maka para tukang jahit harus membuatnya dan diproduksi secara massal.

Di luar sikap pelitnya Otsuka Pharmaceutical co., ada visi yang patut diacung jempol, yaitu tujuan produksinya yang bertumpu hanya pada kesehatan manusia. Coba saja cek semua produk yang dihasilkannya di sini.

Sungguh ada banyak hal yang ingin gw tanyakan, sehingga gw merasa 2 jam berada di sana tidaklah cukup. Rasa keingintahuan ini benar-benar menyiksa, kesal sekali rasanya jika tidak mampu memuaskan diri dengan mencari tahu hal tersebut.

2 comments.

Tada!!

Posted on June 19th, 2010 by Sapto, Hysocc.
Categories: Academic.

Akhirnya gw mengaktifkan Blog Mahasiswa IPB gw. Ingin sekali mengisinya secara rutin, tapi udah punya halaman di Wikipedia, jadi dilema nih.

Paling cuma diisi kisah pribadi ajah, ga yang lain. Kalo diisi mengenai scientific information, Wikipedia bisa menyediakan halamannya dengan format yang lebih lengkap.

yuk ramai2 pindah ke Wikipedia, dengan tidak lua menyertakan jurnal2 IPB sebagai referensi dalam memperkaya isi Wikipedia.

1 comment.

Korosi

Posted on January 29th, 2010 by Sapto, Hysocc.
Categories: Sains.

Untuk Zeyra yang malas mengerjakan PRnya

Korosi adalah disintegrasi material engineering menjadi atom-atom penyusunnya dan bereaksi dengan lingkungan sekitarnya. Korosi adalah salah satu dari berbagai kegagalan mekanis yang sering menjadi pengganggu utama pekerjaan di dunia teknik, bersama-sama dengan buckling, creep, fatigue, fracture, impact, mechanical overload, rupture, thermal shock, wear, dan yielding.

Dalam istilah umum, korosi merupakan oksidasi elektrokimia dari ogam dalam reaksinya dengan senyawa oksidan seperti oksigen. Yang paling umum adalah peristiwa perkaratan besi, yaitu terbentuknya senyawa oksida besi berwarna kemerahan di atas besi yang disebut dengan karat besi. Proses perkaratan umumnya memperlemah kekuatan logam dan menjadikannya rapuh. Korosi juga terjadi pada keramik dan polimer, namun umumnya hal itu disebut dengan degradasi meski prosesnya sama.

Reaksi yang terjadi ketika proses perkaratan besi yaitu:
-Besi dioksidasi oleh H2O atau ion hidrogen
Fe(s) –> Fe2+(aq) + 2e- (oksidasi)
2H+ (aq) –> 2H(aq) ( reduksi )

-Atom-atom H bergabung menghasilkan H2
2H(aq) –> H2(g)

-Atom-atom H bergabung dengan oksigen
2H(aq) + 1/2O2(aq) –> H2O(l)

-Jika konsentrasi H+ cukup tinggi (pH rendah), maka reaksi
Fe + 2H+ (aq) –> 2H(aq) + Fe2+ (aq)
2H(aq) –> H2(g)

-Ion Fe2+ juga bereaksi dengan oksigen dan membentuk karat (coklat kemerah-merahan) dengan menghasilkan ion H+ yang selanjutnya direduksi menjadi H2-
4Fe2+ (aq) + O2(aq) + 4H2O(l) + 2xH2O(l) –> 2Fe2O3(H2O)x(s) + 8H+

Reaksi totalnya menjadi
4Fe(s) + 3O2(aq) + 2x H2O(l) –> 2Fe2O3(H2O)x(s)

Proses lain yang mirip dengan korosi namun memberikan keuntungan di dunia teknik yaitu pasivasi. Pasivasi adalah proses pembentukan senyawa oksida logam di permukaan logam tersebut untuk mencegah proses perkaratan lebih lanjut, Lapisan oksida logam tersebut jarang disebut dengan karat kkarena menguntungkan walau sebenarnya mirip. Pasivasi terjadi pada stainless steel, aluminium, titanium, dan senyawa logam lainnya yang tidak dapat berkarat dalam artian umum, karena sesungguhnya mereka berkarat meski hanya di permukaannya.

Salah satu jenis korosi yang terkenal adalah korosi galvanik. Korosi ini terjadi ketika dua logam yang berbeda terjadi kontak yang mengakibatkan terjadinya aliran elektron. Korosi ini menyebabkan salah satu logam mengalami korosi sedangkan logam lainnya tidak dapat mengalami korosi. Dalam ha ini, logam yang mengalami perkaratan tersebut ‘dikorbankan’ untuk menahan proses korosi dari logam lainnya. Hal ini umum terjadi dalam dunia industri untuk mencegah proses perkaratan lebih lanjut terhadap suatu komponen, misalnya pipa besi yang ditanam dalam tanah, badan kapal laut, dan sebagainya yang rentan terhadap korosi.

Korosi juga bisa terjadi akibat temperatur tinggi yang mengakibatkan atom-atom dalam suatu material mengalami deteriorasi. Hal ini dapat terjadi jika suatu material dalam temperatur tinggi diekspos ke atmosfer yang mengandung oksigen, sulfur, atau senyawa lainnya yang mampu mengoksidasi material tersebut. Hal ini umum terjadi pada mesin-mesin kendaraan, mesin industri, dan mesin lainnya yang bekerja pada temperatur tinggi. Penggunaan pelumas membantu menurunkan temperatur dan melapisi mesin sehingga mencegah korosi (atau biasa disebut dengan keausan mesin).

Metode yang umum digunakan dalam mencegah korosi diantaranya:
* Perlakuan terhadap permukaan. Hal ini dapat dilakukan dengan pengaplikasian zat pelapis, pelapisan zat reaktif, dan anodisasi.
** Pemberian plat atau lempengan logam, pengecatan, atau pemberian lapisan enamel pada suatu material adalah cara yang umum dilakukan dalam mencegah korosi dengan metode perlakuan terhadap permukaan. Mereka bekerja dengan memberikan perlindungan terhadap suatu material yang mungkin akan berkarat, mencegahnya terekspos ke atmosfer atau senyawa korosif lainnya. Namun dalam proses pelapisan dengan logam, perlu diperhatikan jenis logam yang akan melapisi dan dilapisi karena jika salah akan mengakibatkan korosi galvanik dan menyebabkan korosi yang terjadi lebih parah.
** Pemberian lapisan reaktif umumnya pemberian senyawa yang dapat menyatu dengan material dan menjadi penghambat terjadinya korosi akibat reaksi kimia, bukan karena sifat galvanik dari senyawa tersebut. Senyawa-senyawa tersebut dapat berupa senyawa mineral laut dan surfaktan.
** Anodisasi adalah proses pencegahan korosi dengan mengisi pori-pori logam dengan senyawa anti karat dengan cara merendamnya dalam suatu larutan garam-garaman. Perendaman ini umumnya dilakukan sesaat setelah terjadinya proses pencetakan dengan maksud pendinginan dan sekaligus anodisasi agar logam yang terbentuk menjadi lebih kuat dan tahan korosi. Jika permukaannya tergores, maka proses pasivasi akan terjadi dan melindungi bagian yang tergores, meski logam aslinya tidak mungkin melakukan pasivasi.
* Proteksi katodik, yaitu proteksi pengorbanan anoda dan pemberian arus listrik pencegah korosi.
** Proteksi pengorbanan anoda yaitu proteksi dengan memberikan anoda kepada logam yang akan dilindungi, sehingga logam yang dilindungi menjadi katoda. Logam yang dilindungi akan mendapatkan donor elektron dari anoda sehingga katoda terhindari dari korosi, sedangkan anoda yang kehilangan elektron akan mengalami korosi.
** Pemberian arus listrik pencegah korosi umum dilakukan untuk struktur yang besar di mana pengorbanan anoda tidak dapat dilakukan dengan alasan efisiensi. Arus yang diberikan umumnya berupa arus DC. Arus, yang merupakan aliran elektron, akan melindungi logam tersebut dari korosi.

0 comments.

Kesetimbangan Kimia

Posted on January 29th, 2010 by Sapto, Hysocc.
Categories: Sains.

Buat Zeyra yang. . .

Dalam proses kimia, kesetimbangan kimia adalah keadaan di mana aktivitas kimia atau konsentrasi antara reaktan dan produk reaksi tidak lagi terjadi perubahan seiring berjalannya waktu selama kondisi fisik reaksi tidak berubah. Biasanya, hal ini merupakan hasil dari reaksi kimia yang dapat terjadi secara terbalik. Dalam kesetimbangan dinamik, laju reaksi yang terjadi antara reaksi maju maupun terbalik tidaklah nol, melainkan konstan dan setara, tidak ada perubahan antara konsentrasi reaktan maupun produk melainkan konstan. Inilah mengapa disebut dengan dinamis, karena selalu bergerak.

Dalam reaksi kimia, ketika reaktan dicampur secara bersama-sama dalam tabung reaksi, dan diberi energi jika diperlukan, seluruh reaktan tidak semuanya berubah menjadi produk hasil reaksi. Setelah beberapa lama, reaksi terbalik yang terjadi, yaitu yang mengubah hasil reaksi menjadi reaktan, akan terjadi namun tidaklah lama. Hal seperti ini akan terus menerus berulang terjadi hingga rasio kesetimbangan antara reaktan dan produk terjadi dan tetap. Walau sejumlah reaktan atau produk diambil, kesetimbangan akan tetap muncul selama kondisi fisik reaksi tetap, atau jika kondisi fisik berubah (temperatur, tekanan, dan sebagainya) maka reaktan dan produk hasil reaksi akan menyesuaikan.

Prinsip Le Chatelier (1884): “Jika kesetimbangan dinamis terganggu dengan mengubah kondisi, maka posisi kesetimbangan akan bergeser melawan perubahan”. Kodisi yang dimaksud adalah kondisi fisik (temperatur dan tekanan) maupun jumlah reaktan. Pergeseran kesetimbangan akan terjadi, menyesuaikan terhadap perubahan yang terjadi agar kesetimbangan tetap terjadi. Seperti contoh, jika kita menambahkan reaktan, maka reaksi akan bergeser menuju hasil reaksi untuk memenuhi kondisi kesetimbangan. Sedangkan jika kita mengambil reaktan, maka reaksi akan bergeser menuju reaktan. Kondisi yang sama juga terjadi jika kondisi fisik reaksi diberlakukan, misalnya terjadi perubahan temperatur dan tekanan.

Contoh kesetimbangan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari:
Mesin roket ketika terjadi reaksi antara oksigen dan hirogen yang terbakar membentuk uap H2O
Sintesis amonia dalam proses Haber-Bosch
Kimia atmosfer, misalnya kesetimbangan jumlah senyawa klor pada lapisan ozon ketika terjadi pencemaran ozon dengan CFC
Kimia oseanik, misalnya kesetimbangan kadar garam dalam tubuh ikan dengan kadar garam laut yang mengelilinginya
Kesetimbangan cairan dalam tubuh hewan, termasuk manusia, misalnya peran senyawa buffer dalam kesetimbangan pH dalam darah dan cairan tubuh

Kesetimbangan kimia dalam ruang tertutup terjadi pada saat kita memiliki reaksi timbal balik di sebuah sistem tertutup, tidak ada yang dapat diambil dari reaktan maupun hasil reaksi, namun masih dapat dilakukan perubahan fisik kondisi (tekanan dan temperatur) yang mengakibatkan reaksi masih berlangsung dinamis.

2 comments.

Larutan elektrolit

Posted on January 29th, 2010 by Sapto, Hysocc.
Categories: Sains.

Untuk siapa ya??? Tahulah kamu. . .

Dalam ilmu kimia, elektrolit adalah zat yang mengandung ion-ion bebas yang menjadikannya konduktif secara elektrik. Tipe yang paling umum dari elektrolit adalah larutan ion, namun leburan zat elektrolit dan elektrolit padat juga ada.

Elektrolit umumnya ada dalam bentuk larutan asam, basa, atau garam. Beberapa jenis gas juga bisa berfungsi sebagai elektrolit dalam kondisi temperatur tinggi dan tekanan rendah (contoh: ketika terjadi petir dan yang cara kerja TV plasma). Larutan elektrolit juga dapat dihasilkan dari larutan senyawa biologi (DNA dan polipeptida, dimanfaatkan dalam proses pemisahan gen) dan polimer sintetik (disebut polielektrolit; misalnya polistirena sulfonat).

Larutan elektrolit umumnya terbentuk ketika garam-garaman dilarutkan ke dalam pelarut, misalnya air, dan komponen-komponen garam terpisah akibat interaksi termodinamika antara pelarut dan zat terlarut, yang disebut proses solvasi. Contohnya, garam dapur yang dilarutkan ke air. Garam sebagai bentuk padatan akan terlarut menjadi komponen-komponen pembentuknya, yaitu Na+ dan Cl-.

Elektrolit juga bisa dibuat dengan melarutkan zat di mana zat tersebut juga bereaksi dengan air, misalnya pelarutan gas karbon dioksida ke dalam air untuk menghasilkan larutan yang berisi ion H+, karbonat, dan asam karbonat (misal, dalam proses pembuatan minuman berkarbonasi).

Lelehan zat yang biasanya dilarutkan ke dalam pelarut untuk menjadi larutan elektrolit juga dapat menjadi elekrolit juga, misalnya lelehan garam yang dapat menghantarkan listrik.

Kuat lemahnya elektrolit bergantung pada jumlah ion terlarut di dalamnya. Jika zat yang dilarutkan tidak menghasilkan ion-ion, maka itu dikatakan non elektrolit. Atau jika ion-ion yang dihasilkannya sedikit jumlahnya karena kemampuan dissosiatifnya dengan zat pelarut lemah, maka itu dikatakan larutan elektrolit lemah, dan hanya mampu menghantarkan listrik dalam jumlah yang sangat terbatas.

Larutan elektrolit kuat adalam larutan yang mempunyai daya hantar listrik yang baik, karena zat terarut yang berada di dalam pelarut seluruhnya dapat berubah menjadi ion. Yang tergolong elektrolit kuat yaitu: asam kuat (HCl, HClO3, HClO4, H2SO4, HNO3, dan sebagainya), basa kuat (basa dari golongan alkali dan alkali tanah), dan garam-garaman yang memiliki kelarutan tinggi (NaCl, KCl, KI, Al2(SO4)3, dan sebagainya).

Larutan elektrolit lemah adalah larutan yang mampu menghantarkan arus listrik secara lemah karena komponen zat terlarutnya tidak seluruhnya berubah menjadi ion, melainkan hanya sebagian. Yang tergolong larutan elektrolit lemah adalah asam lemah, basa lemah, dan garam-garam yang sukar larut (AgCl, CaCrO4, PbI2, dan sebagainya).

Larutan non elektrolit adalah larutan yang komponen zat terlarutnya tidak dapat berubah menjadi ion. Hal ini dikarenakan ikatan molekulnya terlalu kuat sehingga sulit memisahkan diri dalam larutan. Umumnya, larutan dari senyawa polimer dan senyawa polimer itu sendiri merupakan non elektrolit. Contohnya adalah larutan urea, larutan sukrosa, larutan glukosa, larutan alkohol, dan sebagainya.

Ketika elektroda diletakkan di dalam elektrolit dan tegangan listrik diaplikasikan, elektrolit akan menghantarkan listrik. Reaksi kimia akan terjadi pada katoda yang mengkonsumsi elektron yang dikeluarkan oleh anoda, dan reaksi lainnya terjadi di anoda yang mengeluarkan elektron untuk ditangkap katoda. Hal ini akan menghasilkan awan elektron di sekitar katoda dan kondisi miskin elektron di anoda. Untuk mengatasi hal tersebut, ion-ion yang berada di dalam larutan bergerak mengambil muatan yang terkumpul sehingga terjadi reaksi kimia, sama halnya dengan yang terjadi di anoda, sehingga muatan menjadi netral dan aliran elektron bisa terus terjadi. Kondisi ini sering disebut dengan elektrolisis (elektro: listrik, lisis: mencerna).

Contoh dari elektrolisis adalah ketika larutan garam NaCl dialiri listrik, reaksi katoda yang terjadi adalah:
2H2O + 2e- –> 2OH- + H2
dan gas hidrogen akan terbebaskan dari katoda. Reaksi di anoda:
2H2O –> O2 + 4H+ + 4e-
dan gas oksigen akan menggelembung dari anoda. Ion bermuatan positif Na+ akan bereaksi dengan muatan negatif hasil netralisasi katoda, yaitu OH- dan membentuk NaOH, dan ion bermuatan negatif Cl- akan bereaksi dengan muatan positif hasil netralisasi anoda, yaitu H+, membentuk HCl. Keduanya akan bereaksi dan membentuk NaCl + H2O sehingga larutan ion NaCl akan kembali terbentuk.

Perlu diperhatikan bahwa mengapa bukan Na+ yang mendapatkan elektron agar menjadi netral namun malah H2O, dan bukan Cl- yang melepaskan elektron agar menjadi netral melainkan H2O juga, hal ini dikarenakan Na+ memiliki tingkat oksidasi yang lebih tinggi dari H2O sehingga lebih mudah bagi H2O untuk menangkap elektron dibandingkan Na+ karena energi yang diperlukan lebih sedikit. Hal ini juga berlaku bagi Cl- yang memiki tingkat reduktivitas yang tinggi.

Konduktor elektrolitik digunakan dalam berbagai bidang industri, diantaranya:
Baterai
Fuel cell
Proses electroplating
Kapasitor elektrolitik
Higrometer
Proses hidrometalurgi
Pembuatan kaca dengan melelehkan kaca menggunakan arus listrik

Dalam tubuh kita, terutama cairan tubuh dan darah, kesetimbangan cairan ditentukan oleh jumlah ion di dalam tubuh yang dihitung dalam satuan muatan listrik terlarut karena mempengaruhi penyerapan cairan secara intraseluler maupun ekstraseluler. Ion primer dalam tubuh yaitu natrium, kalium, kalsium, magnesium, klor, asam fosfat, dan asam karbonat. Seluruh bentuk kehidupan yang diketahui membutuhkan keseimbangan elektrolit secara intraseluler dan ekstraseluler karena menyangkut transportasi mineral, cairan, dan nutrisi. Ketidakseimbangan gradien elektrolit dapat mempengaruhi hidrasi tubuh, pH darah, dan fungsi otot dan syaraf. Berbadag mekanisme dan fungsi fisiologis diterapkan oeh seluruh makhluk hidup dalam menjaga keseimbangan tersebut secara terkendali.

0 comments.