Pengalaman di pabrik Pocari Sweat, PT. Amerta Indah Otsuka, Sukabumi

Posted on June 22nd, 2010 by Sapto, Hysocc.
Categories: Pengalaman Berharga.

Berawal dari SMS teman yang menginfokan bahwa pendaftaran Industry Visit, program kerja BEM F, gw sangat ingin sekali berpartisipasi. Kegiatan ini sungguh sangat bermanfaat, gw jarang sekali melakukan kunjungan ke industri, dan gw sangat ingin sekali melihat sesuatu yang berbeda dari suatu industri karena tiap industri pasti memiliki keunikan tersendiri.

Berangkat dari IPB, tidak disangka ternyata pihak PT. Amerta Indah Otsuka menjemput kami dengan bis perusahaan. Di pabrik pun kita disambut dengan hangat, seolah tidak cukup bagi kami menyaksikan keindahan, kebersihan, dan kenyamanan pabrik dari halaman depan. Kami langsung diantar ke ruang presentasi di lantai tiga dengan elevator. Di ruangan tersebut, kami diperlihatkan pada berbagai hal, diantaranya sejarah perusahaan Otsuka Pharmaceutical co., visi misi, dan apa yang telah dicapai. Selain itu, disajikan pula sejarah Pocari Sweat di Indonesia, proses pembuatannya sejak tahun 90an sampai sekarang, hingga pabrik barunya yang terletak di Kejayan, Pasuruan, Jawa Timur. Yang paling menarik tentu saja, presenternya, mba Peti, lulusan IPB Diploma angkatan 39, yang senyumannya manis. Huehue, becanda.

Bingung ya kenapa perusahaan minuman ringan diasuh oleh perusahaan berbau pharmaceutical? Pada dasarnya, Otsuka adalah seorang dokter, dan perusahaan yang didirikannya berawal dari pembuatan cairan infus. Jika diselidiki, komponen cairan infus tidak berbeda dengan Pocari Sweat koq. Ketika gw dirawat di rumah sakit, gw pernah mencicipi cairan infus sedikit dari botol cairan infus yang hampir habis, dan rasanya kira-kira sama, agak-agak asin.

Yang paling menarik adalah proses pembuatan produknya, karena gw adalah engineer. Tapi gw agak menyimpang juga sih, karena semua pertanyaan yang gw ajukan adalah mengenai plastik. Walau TEP juga mempelajari pengemasan, namun sebagian besar dipelajari di TIN. Yang menjadi pertanyaan gw adalah mengenai proses pasteurisasi setelah filling, karena Poli Etilen Tereftalat, plastik bahan pembuat botol amat rentan terhadap panas dan seharusnya terjadi proses degradasi dari botol plastik ke produk. Pertanyaan gw yang berikutnya adalah perihal penggunaan PET sebagai bahan pembuat botol yang banyak dikeluhkan konsumen karena hanya bisa digunakan sekali dan tidak bisa di-reuse.

Yang menjawab pertanyaan kami, kalo ga salah namanya pak Agus, Alhamdulillah, adalah seorang yang amat nasionalis, walau ia bekerja di perusahaan Internasional. Ia blak-blakan mengatakan, sambil menjawab pertanyaan bahwa segala proses pembuatan, dari pencampuran air, gula, dan garam2an, pembuatan botol, pasteurisasi, hingga pengepakan, semuanya diatur oleh Otsuka Pharmaceutical co. beserta teknologi yang mereka miliki, dan para pegawai dan teknisi yang bekerja di bawahnya tidak berhak melakukan perubahan terkait proses produksi. Segala macam hal teknis sudah diaplikasikan setelah penelitian dilakukan sehingga untuk melakukan perubahan, diperlukan research and development lagi, dan itu tidak diizinkan oleh Otsuka International kecuali RnD dilakukan oleh Otsuka Pharmaceutical co. sendiri. Pak Agus juga memaparkan mengapa investasi Otsuka Pharmaceutical co., di mana penanaman modal asingnya adalah 100%, bisa lolos di Indonesia, padahal secara hukum hal itu tidak diperkenankan, juga diutarakan kepada kami, sehingga 100% profit Pocari Sweat yang dijual di Indonesia bisa lari ke Jepang. Ia juga mengatakan penyeasalannya kepada Indonesia karena air yang digunakan di perusahaan adalah air dari bumi Indonesia, namun keuntungannya 100% dinikmati di Indonesia. Untuk menyiasati hal itu, ia mengaku mengusulkan banyak program CSR perusahaan bagi masyarakat sekitar, dan salah satunya adalah program daur ulang limbah pabrik, terutama limbah botol palstik, yang melibatkan masyarakat yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Maka dari itu, di tiap sudut ruang kantor dan pabrik terdapat tempat sampah khusus botol plastik yang nantinya akan didaur ulang oleh masyarakat. Luar biasa.

Setelah penyampaian materi dan sesi tanya jawab, kita disuguhkan oleh view gunung Salak dan sempat berfoto bersama. Pemandangannya sih ga terlalu istimewa, gw lebih suka melihat bangunan pabriknya, yang juga terlihat dari ruangan itu.

Setelah itu, Pocari gratis…..

Lalu kami diajak untuk melihat-lihat proses produksi Pocari Sweat. Perjalanan menuju tempat tersebut kami lalui sambil melihat-lihat maket model pabrik dan lukisan-lukisan yang dibuat oleh anak-anak mengenai Pocari Sweat, anak-anak SD yang pernah mengunjungi pabrik ini sebelumnya.

Sayangnya, kami tidak bisa melihat proses produksi secara langsung melainkan dari platform yang didesain untuk memantau proses produksi dari jauh. Karena proses produksinya aseptik, kami tidak diijinkan untuk masuk ke lokasi produksinya. Namun hal itu sudah cukup menjawab rasa penasaran gw mengenai proses produksinya. Hanya satu mekanisme mesin yang belum gw pahami, yaitu alat yang digunakan untuk melabeli botol-botol secara otomatis. Selain itu, mekanisme sinkronisasi setiap mesin yang berjalan juga membuat gw pusing, begitu banyak kabel yang bersliweran di area produksi. Semua itu membuat gw merasa tertantang untuk mempelajari semuanya.

Ada satu ruangan produksi di mana teknisi yang bekerja di sana adalah teknisi yang diinstruksikan dan dikirim langsung dari Otsuka Pharmaceutical co, yaitu fasilitas pencampuran bahan, di mana pada fasilitas tersebut ada banyak tangki dan aliran yang terjadi di dalamnya berlangsung terus menerus 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dan bahan juga disuplai secara periodik. Dengan kondisi tersebut dan pengaturan aliran yang sedemikian rupa, komposisi cairan yang siap untuk difilling ke botol adalah sama untuk setiap botol. Sebenarnya konsepnya cukup mudah, gw mempelajarinya di semester 4 di mata kuliah Engineering Mathematica, kenapa bangsa Indonesia tidak mampu melakukan hal tersebut dan harus diasuh oleh teknisi dari Jepang? Tentu saja jawabannya sudah gw duga, “Komposisi campuran Pocari Sweat adalah ahasia Otsuka Pharmaceutical co.” jawabnya. Seperti yang ia katakan dari awal, di pabrik ini, orang Indonesia adalah “tukang jahit”nya, bukan desainernya. Jadi, ketika desainer berkata, buatkan pakaian seperti ini, maka para tukang jahit harus membuatnya dan diproduksi secara massal.

Di luar sikap pelitnya Otsuka Pharmaceutical co., ada visi yang patut diacung jempol, yaitu tujuan produksinya yang bertumpu hanya pada kesehatan manusia. Coba saja cek semua produk yang dihasilkannya di sini.

Sungguh ada banyak hal yang ingin gw tanyakan, sehingga gw merasa 2 jam berada di sana tidaklah cukup. Rasa keingintahuan ini benar-benar menyiksa, kesal sekali rasanya jika tidak mampu memuaskan diri dengan mencari tahu hal tersebut.

2 comments.

bane_elemental

Comment on October 18th, 2010.

nice posting,,=D

FEFI SANDRA JUWITA

Comment on December 14th, 2010.

Jd, pengen jalan-jalan juga rasanya ke industri-industri,hehehe..
terima kasih y atas pengalamannya..tetap semagat mencari informasi-informasi baru:)

Leave a comment

Comments can contain some xhtml. Names and emails are required (emails aren't displayed), url's are optional.